Diskusi yang berlangsung di Rumah Kebangsaan pada Selasa malam ini menjadi sorotan penting bagi dinamika politik di Banyuwangi. Percakapan tidak hanya berhenti pada persoalan pemecatan tiga anggota DPRD dari Partai Gerindra, tetapi melebar ke munculnya desakan kuat dari masyarakat luas, agar Sumail mengundurkan diri atau diturunkan dari jabatan Ketua DPC Gerindra Banyuwangi.
Desakan ini lahir dari pemahaman masyarakat yang kian cerdas dan kritis. Sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus tanggung jawab struktural, Sumail dianggap belum mampu membesarkan dan membawa partai ke arah yang lebih baik.
Ada dua hal utama yang menjadi dasar kuat munculnya harapan ini:
Pertama, secara terbuka melalui berbagai media telah disampaikan target perolehan kursi sebanyak 12 kursi. Namun pada kenyataannya, hasil yang diraih hanya 6 kursi saja. Kesenjangan antara janji dan realita ini memicu persepsi luas, tidak hanya di kalangan elit partai, tetapi juga di tengah masyarakat, bahwa perlu ada akuntabilitas yang jelas.
Kedua, tumbuhnya dugaan di kalangan masyarakat bahwa selama proses Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden kemarin, energi dan perjuangan lebih banyak diarahkan untuk menyukseskan diri sendiri, anak, serta dua keponakan. Terlebih lagi, dua nama kerabat dekat itu kemudian tersandung kasus hukum terkait narkoba, hal yang tentu saja semakin menguatkan pandangan publik bahwa hal ini tak bisa dibiarkan berlalu begitu saja.
Melihat situasi yang semakin berkembang dan memunculkan kegelisahan di tengah masyarakat, M. Hakim Said, SHM, tokoh sentral Rumah Kebangsaan, dengan tegas menyampaikan:
"Desakan agar tidak hanya berhenti pada pemecatan, tetapi juga berlanjut pada pengunduran diri, itu hal yang wajar. Itu bukti bahwa masyarakat Banyuwangi semakin cerdas, semakin kritis, dan semakin mengerti bahwa sebuah amanah harus dipertanggungjawabkan sepenuhnya."
Pandangan senada juga disampaikan Yunus, tokoh yang dikenal dengan julukan HARIMAU BLAMBANGAN, yang menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat adalah aset terbesar, dan jika kepercayaan itu telah retak, langkah terbaik adalah memberikan kesempatan yang baru.
Dan yang paling disayangkan, menurut Andah Wibisono,AP, S.H., M.Hum,
selaku Pengamat Kebijakan Publik & Pemerintah Daerah. "Dari 6 kursi yang berhasil diraih itu pun, hanya 1 yang tetap aktif dan berjuang, yaitu [ Wito ], sementara sisanya terkesan menjadi "kartu mati" yang tak terdengar suaranya.
"Jangan sampai Gerindra Banyuwangi benar-benar seperti ungkapan Pak Prabowo: "Sekumpulan harimau yang dipimpin oleh seekor kambing."
Sungguh ironis dan tragis jika hal itu
terjadi. Suara ini bukan tentang siapa menang dan siapa kalah. Ini tentang satu hal yang sederhana: pemimpin harus bertanggung jawab atas hasil, dan jika kepercayaan masyarakat telah hilang, keberadaan di dalamnya pun kehilangan maknanya. "pungkadnya
