Banyuwangi,www.mediateropongtimur.co.id
Kehangatan layanan, perlakuan yang tulus, dan dukungan penuh dari seluruh elemen di lingkungan panti rehabilitasi membuat seorang WNA Inisial AN mengungkapkan rasa syukur yang mendalam. Ia kini tengah menjalani masa pemulihan di Lembaga Rehabilitasi Pencegahan dan Penyalahgunaan Narkotika Bhayangkara Indonesia [LRPPN-BI] Banyuwangi.
AN yang berusia 35 tahun dan sebelumnya berdomisili di Bali, harus menempuh proses rehabilitasi setelah terlibat permasalahan terkait penyalahgunaan ganja. Berdasarkan penetapan yang dikeluarkan pihak berwenang, ia disalurkan untuk menjalani program pemulihan alih-alih menjalani masa tahanan.
"Saat pertama kali mendengar keputusan ini, saya tentu merasa gelisah. Namun seiring berjalannya waktu, saya sungguh bersyukur tak ditempatkan di penjara, melainkan dikirim ke sini, tepatnya di LRPPN-BI Banyuwangi. Saya senang sekali tidak ditempatkan di daerah lain seperti Jakarta atau tempat lainnya, karena di sini saya menemukan suasana yang sangat berbeda," ungkap AN dengan tulus saat sesi konfirmasi bersama tim konselor.
Warga asing ini menceritakan betapa hangatnya sambutan yang ia terima sejak hari pertama tiba.
"Semua orang, baik staf maupun sesama residen, memperlakukan saya layaknya anak sendiri. Saya mendapatkan perhatian, kasih sayang, serta dukungan dari komunitas sesama peserta pemulihan, mentor, hingga tim konselor. Rasanya seperti berada di tengah keluarga besar yang tulus ingin membantu saya bangkit, menyelesaikan segala masalah, memperbaiki pola pikir, dan mengubah jalan hidup ke arah yang jauh lebih baik," tambahnya.
AN secara khusus menyampaikan penghargaan kepada sosok pembimbingnya, Ibu Samantha, serta Ketua IPWL LRPPN-BI Banyuwangi, Bapak M. Hiksan, M.Pd., M.M.
"Bu Samantha adalah pembimbing yang sangat baik, sedangkan Bapak Hiksan bagaikan sosok ayah yang senantiasa membimbing kami dengan penuh kelembutan. Di sini saya juga mendapatkan berbagai terapi pendukung dan kegiatan komunitas yang sangat membantu proses penyembuhan saya," ujarnya terharu
.
Selama menjalani masa pemulihan, Anna menyadari makna yang sesungguhnya dari sebuah kebebasan. Ia menyebutkan pengalaman ini sebagai pelajaran yang sangat berharga meski harus dibayar mahal.
"Saya sudah memahami sepenuhnya pelajaran besar ini: betapa beratnya kehilangan kebebasan, betapa rindunya tak bisa bertemu putra serta keluarga tercinta, dan betapa berharganya setiap momen yang kita miliki. Kelak setelah menyelesaikan rehabilitasi, saya bertekad teguh untuk menjalani hidup yang bersih dan sehat, tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. "kata AN
Saya akan menikmati sepenuhnya setiap detik kehidupan, menjaga keharmonisan bersama keluarga, dan senantiasa menjauhi segala hal yang merusak masa depan," tegas AN menutup pernyataannya.
diriliase mediateropongtimur.co.id
Editor: Buwang Arifin

