kode kode panjang URL GAMBAR

Opini: Kegagalan Pemimpin Dimulai Dari Hilangnya Kepekaan Terhadap Rakyat

Media Teropong Timur
Oleh -
0

dok foto Ketum YLBHI Banyuwangi [ Doni Pranesta, S.H. ]


Banyuwangi,www.mediateropongtimur.co.id

Seorang pemimpin dinyatakan gagal bukan hanya saat ia tidak mampu membangun infrastruktur atau mengelola anggaran, melainkan jauh sebelum itu. Kegagalan terbesar seorang pemimpin bermula ketika ia mulai kehilangan kepekaan, serta ketajaman dalam membaca situasi, kondisi sosial, dan realitas faktual yang sesungguhnya diinginkan dan dibutuhkan oleh rakyat yang dipimpinnya.

Demikian pandangan tajam dan mendalam yang disampaikan oleh Ketum YLBHI [ Yayasan Lembaga Bantuan Hukum dan Advokasi ]
Banyuwangi [ Doni Pranesta S.H ] juga seorang Lawyer yang dikenal memiliki pemikiran kritis dan komitmen tinggi terhadap tata kelola yang baik. Menurutnya, kepemimpinan bukan sekadar soal jabatan atau kekuasaan, melainkan sebuah tanggung jawab besar yang menuntut pemahaman mendalam dan kehadiran jiwa yang peka.

Hilangnya kepekaan, Awal kehancuran;

Doni menegaskan, tanda utama kegagalan seorang pemimpin adalah ketika ia sudah tidak lagi bisa merasakan apa yang dirasakan rakyatnya, tidak lagi memahami apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan masyarakat, serta salah membaca arah dan situasi yang berkembang di tengah masyarakat.

"Ketika seorang pemimpin sudah tidak peka, sudah tidak punya rasa kebersamaan, dan gagal menangkap apa yang sesungguhnya menjadi kehendak rakyat, maka saat itulah fondasi kepemimpinannya mulai runtuh. Pemimpin yang buta akan kondisi sosial dan fakta di lapangan, hanya akan membuat kebijakan yang jauh dari kenyataan dan tidak menyentuh hati rakyat,

Menurutnya, kebijakan yang dibuat tanpa dasar pemahaman situasi dan kondisi faktual, hanyalah akan menjadi dokumen mati yang tidak memberikan manfaat, bahkan bisa menjadi beban dan masalah baru bagi masyarakat.

Poin pertama: Pemimpin Dilarang Gagal Paham Sejarah 

Doni menekankan satu syarat mutlak yang tidak boleh diabaikan oleh siapa pun yang memegang tampuk pimpinan, yaitu pemimpin tidak boleh gagal paham terhadap sejarah daerah atau wilayah yang dipimpinnya. 

*Sejarah*.  menurut Doni, adalah akar, identitas, dan guru terbesar dalam memimpin. Bagaimana mungkin seseorang bisa membawa daerahnya maju, melestarikan budaya, dan membangun peradaban yang lebih baik, jika ia sendiri tidak tahu, tidak paham, atau bahkan melupakan sejarah perjalanan daerah tersebut?

*Gagal paham sejarah berarti gagal memahami jati diri rakyatnya.

Pemimpin yang tidak mengenal sejarah daerahnya, ibarat orang yang berjalan tanpa tahu asal-usulnya, sehingga ia akan mudah tersesat dan salah arah dalam menentukan masa
depan. Memahami sejarah bukan hanya soal mengetahui masa lalu, melainkan kunci untuk memahami karakter, budaya, nilai-nilai, dan tantangan yang melekat pada masyarakat tersebut. Tanpa pemahaman ini, kebijakan yang diambil pasti akan kaku dan tidak relevan.

Poin Kedua: Wajib membangun Filosopi Kepemimpinan Diri Sendiri

Poin kedua yang dianggap mutlak dan wajib dimiliki oleh setiap pemimpin menurut Doni Pranesta adalah kemampuan untuk membangun filosofi kepemimpinan atas dirinya sendiri saat ia memimpin. Filosopi
kepemimpinan ini adalah landasan, prinsip, dan panduan hidup yang dipegang teguh oleh seorang pemimpin dalam setiap langkah dan keputusannya. Seorang pemimpin tidak boleh hanya meniru gaya orang lain atau berjalan tanpa arah, melainkan harus memiliki pemikiran sendiri, nilai sendiri, dan visi yang jelas tentang bagaimana cara ia memimpin dan apa tujuan besarnya.

"Pemimpin tanpa filosofi ibarat kapal berlayar tanpa kompas. Ia akan mudah terombang-ambing, berubah arah sesuai angin, dan kehilangan jati diri. Filosofi kepemimpinan inilah yang menjadi pembeda antara pemimpin yang hanya sekadar punya jabatan, dengan pemimpin yang benar-benar membawa perubahan dan jejak kebaikan. Filosopi yang dibangun
haruslah berakar pada nilai kebenaran, keadilan, kesejahteraan, dan pengabdian.Saat seorang pemimpin memiliki filosofi yang kuat, ia akan konsisten, teguh pendirian, dan tidak mudah tergoyahkan oleh kepentingan sempit atau tekanan sesaat.

Kritik Membangun Demi Masa Depan Bangsa

Pandangan Doni Pranesta, S.H, ini merupakan bentuk kritikan membangun yang sangat berharga bagi dunia kepemimpinan. Ia mengingatkan bahwa menjadi pemimpin bukan sekadar punya kuasa, tetapi harus punya hati, punya wawasan, punya akar sejarah, dan punya pemikiran yang utuh.

Kegagalan pemimpin bukanlah takdir, melainkan akibat dari kelalaian menjaga kepekaan, kelalaian mempelajari sejarah, dan kelalaian membangun prinsip diri sendiri. Oleh karena itu, setiap pemimpin wajib terus mengasah kepekaan, mendalami sejarah, dan meneguhkan filosofi kepemimpinannya agar selalu selaras dengan apa yang sesungguhnya diharapkan dan dibutuhkan oleh rakyat.


Oleh Doni Pranesta
Editor: Buwang Arifin
Tags:

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)