kode kode panjang URL GAMBAR

Skandal Proyek "Siluman" Terkuak: Kualitas Kapen Amburadul, Dugaaan Manipulasi Mengarah ke Desa Lamongan

Media Teropong Timur
Oleh -
0


Sutubondo,www.mediateropongtimur.co.id

Dugaan praktik proyek “siluman” di Desa Lamongan, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo, kini mengarah pada indikasi yang lebih serius: kualitas pekerjaan yang diduga sengaja diabaikan dan potensi manipulasi dalam pelaksanaan proyek.

Investigasi lapangan yang dilakukan oleh Aktivis Lsm Teropong bersama Lsm Penjara membuka fakta mencengangkan.

Proyek lapen (lapis penetrasi) yang seharusnya meningkatkan kualitas infrastruktur desa justru menunjukkan kondisi sebaliknya—rapuh, tipis, dan mulai rusak meski belum lama dikerjakan.

Disejumlah titik, permukaan jalan tampak mengelupas dan aterial batu terlihat lepas dari ikatan aspal, sementara lapisan pengikat diduga tidak memenuhi standar teknis. Bahkan, pada bagian tertentu, agregat tampak hanya ditabur tanpa proses pemadatan yang memadai.

Aktivis LSM TEROPONG, H. Junaedi 
[ Ketua DPC LSM TEROPONG Situbondo ] dan Waka LSM PENJARA [ Gafur ] menyebut temuan ini bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan indikasi kuat adanya penyimpangan sistematis.
“Ini bukan pekerjaan gagal biasa. Polanya jelas—aspal tipis, material tidak menyatu, dan pengerjaan terkesan asal jadi. Ini patut diduga ada permainan dalam spesifikasi maupun anggaran,” tegasnya.

Lebih jauh, menyoroti tidak adanya papan informasi proyek sejak awal pengerjaan. Ketiadaan transparansi ini dinilai sebagai pintu masuk praktik proyek “siluman”—di mana publik tidak memiliki akses terhadap informasi dasar seperti sumber anggaran, nilai proyek, hingga pelaksana kegiatan.
“Ketika proyek dijalankan tanpa identitas, tanpa papan nama, itu sudah alarm awal. Dan ketika kualitasnya seperti ini, dugaan penyimpangan semakin kuat,” lanjutnya.

Situasi semakin mencurigakan ketika pihak Pemerintah Desa Lamongan dinilai tidak kooperatif dalam memberikan penjelasan. Upaya konfirmasi yang dilakukan tim investigasi tidak membuahkan hasil yang jelas. Sikap tertutup ini justru memperkuat dugaan adanya sesuatu yang disembunyikan.


Wakil Ketua LSM Penjara menegaskan bahwa kondisi fisik jalan yang cepat rusak mengindikasikan kemungkinan pengurangan volume material atau penggunaan bahan di bawah standar.

Secara kasat mata tidak sesuai spesifikasi.
Ketebalan lapisan diragukan, daya rekat lemah, dan struktur tidak padat. Kalau ini dibiarkan, umur jalan tidak akan lama. Ini bukan sekadar merugikan masyarakat, tapi berpotensi merugikan keuangan negara,” ujarnya.

Warga setempat angkat bicara:

Mereka mengaku heran sekaligus kecewa dengan hasil pekerjaan yang dinilai jauh dari harapan.
“Baru selesai sudah rusak. Kami tidak pernah tahu ini proyek apa, dari mana anggarannya. Tiba-tiba dikerjakan, sekarang sudah mulai hancur,” ujar salah satu warga.

Temuan ini memperkuat dugaan bahwa proyek lapen di Desa Lamongan tidak hanya bermasalah secara administratif, tetapi juga secara teknis. Pola pengerjaan yang tidak sesuai standar, ditambah minimnya transparansi, membuka ruang besar bagi praktik penyimpangan.

Kedua Aktis Lsm Teropong dan LSM Penjara mendesak pemerintah Kabupaten Situbondo, Inspektorat, serta APH untuk segera turun tangan. Meminta dilakukan audit investigatif menyeluruh, baik dari sisi administrasi, teknis, maupun aliran anggaran
“Ini tidak boleh berhenti di temuan lapangan saja. Harus ada audit total. Jika terbukti ada penyimpangan, siapapun yang terlibat harus diproses hukum. Jangan sampai uang rakyat habis untuk pekerjaan yang tidak berkualitas,” tegas H. Junaedi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari Kepala Desa Lamongan maupun instansi terkait. Bungkamnya pihak-pihak terkait justru mempertegas satu hal: proyek ini menyisakan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.  . [Red]


[ Junaidi ]

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)