kode kode panjang URL GAMBAR

Ketika Pemimpin Berubah Menjadi Penguasa. Jejak Kegagalan di Balik Pergeseran Makna Kekuasaan

Media Teropong Timur
Oleh -
0

Oleh Pengamat Kebijakan Publik & Pemerintah Daerah [ Andah Wibisono AP. S.H., M.Hum ]


*Seringkali kita mendengar ungkapan:

Pemimpin melayani, penguasa dilayani. Dua frasa yang tampak serupa, namun membawa makna yang sangat jauh berbeda. Di tangan seorang pemimpin, kekuasaan adalah amanah yang dipikul untuk mengangkat derajat orang banyak. Di tangan seorang penguasa, kekuasaan kerap berubah menjadi alat untuk memperkokoh kedudukan, melindungi kepentingan sendiri, dan menutup telinga terhadap suara yang meminta perubahan.

*Pergeseran dari "Pemimpin" menjadi "Penguasa" bukan terjadi dalam semalam. Ia berawal dari hal-hal kecil:

Ketika saran dianggap gangguan, ketika kritik dianggap penghinaan, dan ketika keberhasilan dianggap sebagai kemenangan pribadi, bukan hasil kerja bersama. Di titik itulah, kegagalan mulai merayap masuk, bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan karena hilangnya kepekaan.

Seorang pemimpin yang gagal bukanlah ia yang belum berhasil mewujudkan semua cita-citanya. Ia gagal ketika berhenti mendengar rakyat yang mengangkatnya. Ia gagal ketika lebih takut kehilangan kekuasaan daripada kehilangan kepercayaan. Dan di situlah perubahan itu terjadi: dari berdiri di depan untuk memandu, menjadi berdiri di atas untuk mengatur dan menuntut penghormatan.

Kegagalan semacam ini tidak selalu tampak secara langsung. Ia bisa tersembunyi di balik kemegahan proyek, di balik pidato-pidato yang indah, di balik pengakuan yang dipaksakan. Namun rakyat tahu. Rakyat merasakan perbedaan antara diayomi dan diatur, antara didengar dan dibungkam, antara diajak berjuang dan ditinggal berjuang sendirian.

*Pelajaran yang paling berharga dari semua ini adalah:

Kekuasaan yang tidak berakar pada pelayanan akan rapuh. Sebesar apa pun kekuatan yang dimiliki, sekuat apa pun jaringan yang dibangun, tanpa kepercayaan yang terus dipelihara, semuanya akan runtuh. Karena pada akhirnya, posisi penguasa bisa dipertahankan dengan kekuatan, tetapi hati rakyat hanya bisa dimenangkan dengan ketulusan.

Semoga kita semua selalu diingatkan, kita dipilih bukan untuk ditinggikan, melainkan untuk diandalkan. Bukan untuk dilayani, melainkan siap melayani, bahkan ketika jalan terasa berat. Karena itulah perbedaan abadi antara penguasa yang berlalu, dan pemimpin yang tetap hidup di hati orang-orang yang pernah ia bimbing.

Editor: Buwang Arifin

Tags:

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)